Summary Review: Diverting indirect subsidies from the nuclear industry to the photovoltaic industry: Energy and financial returns. By: Zelenika-Zovk. I & Pearce. J.M. (2011).

Zelenika-Zovk. I & Pearce. J.M. 2011. Diverting indirect subsidies from the nuclear industry to the photovoltaic industry: Energy and financial returns. Energy Policy Journal.  http://www.elsevier.com/locate/enpol. [on line] 3 March 2011.

Abstrak

Energi nuklir dan Photovoltaic (PV) seringkali bersaing dalam sebuah kebijakan pemerintah yang mendukung keberlangsungan roda ekonomi. Tulisan ini membandingkan antara subsidi tidak langsung di industri nuklir yang setara apabila digunakan untuk mendukung industri pembuatan modul PV.   Energi dan hasil finansial dari kebijakan subsidi tidak langsung AS untuk asuransi nuklir telah dievaluasi, kemudian hasilnya dibandingkan dengan jumlah yang setara untuk subsidi langsung berupa jaminan pinjaman pada industri manufaktur PV.  Evaluasi tersebut dilakukan menggunakan model konstanta ekonomi standar.  Analisis awal menunjukkan bahwa jika subsidi tidak langsung kepada energi nuklir dialihkan ke industri manufaktur PV,  maka akan menghasilkan lebih banyak daya terpasang dan lebih banyak energi dihasilkan. Pada 2110, listrik yang dihasilkan dari energi surya akan memberikan 48.600  Twh lebih banyak daripada energi nuklir dan secara ekonomi setara dengan $ 5,3triliun. Dalam uraian di  tulisan ini jelas menunjukkan hasil analisis bahwa tidak hanya subsiditidak-langsung untuk
kewajiban asuransi
pembangkit nuklir merupakan  faktor penting bagi industri nuklir, tetapi juga bagaimana apabila subsidi tersebut ditransfer untuk industri PV maka akan menghasilkan lebih banyak energi dalam suatu siklus hidup teknologi energi.

Keywords: Nuclear energy, Nuclear insurance, subsidy, Photovoltaic energy

Pendahuluan

 

Meningkatnya kebutuhan energi menimbulkan perdebatan mengenai pasokan energi yang mencukupi untuk masa depan.  Isu yang semakin berkembang adalah mengenai penggunaan energi terbarukan untuk menggantikan berkurangnya energi fosil.  Kebijakan pemerintah sangat diperlukan untuk mendorong majunya energi terbarukan.  Pilihan energi terbarukan yang sangat banyak menyebabkan pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang tepat untuk mendorong jenis energi terbarukan mana yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan negaranya.  pemilihan tersebut dapat berdasarkan berbagai criteria antara lain adalah jumlah energi yang dihasilkan, dampak lingkungan, penerimaan masyarakat dan dari segi keenomian.  Dalam tulisan ini dipaparkan mengenai dua energi terbarukan yang seringkali dibandingkan kebijakannya di AS adalah energi nuklir dan surya (photovoltaic, PV).  Keduanya memenuhi kualitas yang kurang lebih sama untuk criteria tersebut sebelumnya.  Dengan demikian, teknologi nuklir sering dibandingkan dengan sumber terbarukan seperti surya (PV) melalui perbandingan kapasitas energi, siklus hidup, emisi gas rumah kaca dan kinerja ekonomi. Hasil penelitian yang dipaparkan dalam tulisan ini adalah untuk mengevaluasi efek dari subsidi tidak langsung – seperti subsidi asuransi kewajiban nuklir, dan membandingkan kembali energi yang dihasilkan  jika subsidi yang sama besarnya dialihkan untuk industri manufaktur PV.

Energi nuklir selama ini dikampanyekan sebagai energi ramah lingkungan yang mampu menyediakan kebutuhan energi dalam jumlah besar. Namun demikian kurangnya sosialisasi masyarakat menimbulkan biaya eksternalitas yang cukup besar karena ketakutan akan dampak nuklir.  Kebijakan pemerintah AS untuk mendorong kemajuan teknologi nuklir adalah dengan pemberian subsidi tidak langsung.  Subsidi adalah sejumlah pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah untuk menutupi biaya produksi agar dapat dijual dengan harga di bawah marginal cost.  Subsidi dapat berupa subsidi langsung maupun tidak langsung.  Dalam hal teknologi nuklir, subsidi tidak langsung berupa adanya pembayaran kewajiban asuransi nuklir apabila terjadi kecelakaan.  Dalam hal ini, sepertinya subsidi tidak langsung memang tidak mengharuskan keluarnya biaya dimuka bagi pemerintah, sehingga menarik untuk meningkatkan permintaan akan energi nuklir.  Akan tetapi tidak ada pembangkit nuklir yang bisa dibangun tanpa bantuan pemerintah untuk kewajiban jaminan apabila ada kerusakannya.  Dengan kata lain, meskipun kelihatannya tidak ada biaya subsidi dimuka, namun kewajiban subsidi itu harus ada untuk menjamin keberlangsungan teknologi nuklir.  Dengan sifatnya yang wajib seperti ini, subsidi tak langsung asuransi nuklir harus diperhitungkan dalam analisis biaya pembangunan energi nuklir.

Bantuan tidak langsung dari pemerintah bisa juga diterapkan kepada energi terbarukan lainnya.Apabila diberikan kepada energi  PV dalam bentuk jaminan pinjaman untuk industri manufaktur PV skala besar (tentunya dengan perjanjian bahwa pemerintah akan mendapat manfaat tambahan dari pengembalian kembali), efeknya terhadap perkembangan energi tersebut bisa sama bagusnya baik dalam hal efisiensi energi maupun ekonomi. Apalagi tenologi PV sekarang sudah sangat maju hingga dapat membangun pabrik yang dapat memproduksi hingga skala GigaWatt.  Namun demikian, belum ada industri manufaktur PV dalam skala yang cukup besar untuk dapat dibandingkan dengan energi nuklir. Tulisan ini dibuat untuk memberikan data analisiS mengenai dampak pengalihan subsidi tak langsung energi listrik ke industri manufaktur PV skala besar.  Analisa dalam tulisan ini membahas antara lain:

  1. Peran pemerintah dan jangkauan subsidi tak langsung.  Perhitungan tentang kewajiban subsidi energi nuklir dimasukkan dalam perhitungan analisis.
  2. Menghitung daya dan keluaran energi yang dihasilkan dari kedua perbandingan tersebut
  3. Perhitungan daya, energi dan keuntungan financial dihitung bila subsidi tersebut dialihkan.

Subsidi Tidak Langsung Untuk Energi Nuklir Dan Kebijakannya di U.S.

Subsidi tidak langsung berupa jaminan asuransi kecelakaan nuklir wajib diberikan oleh pemerintah kepada pengembangan energi nuklir yang peraturannya diatur oleh The U.S. Nuclear Regulatory Commission.  Namun demikian belum ada analisis mendalam mengenai total jumlah dan perhitungan dari biaya real apabila terjadi kecelakaan nuklir, sehingga belum ada biaya asuransi yang pasti untuk tiap kewajiban asuransi tersebut.  Dampak kecelakaan nuklir seperti hilangnya nyawa makhluk hidup, menyulitkan konversi biayanya ke dalam mata uang.  Di lain pihak untuk pengembangan suatu energi terbarukan butuh analisis mengenai keseluruhan dampaknya untuk dimasukkan sebagai perhitungan biaya eksternalitas. Penelitian di US yang pertama kali dikembangkan oleh Dubin & Rothwell (1990), mengenai analisis biaya energi nuklir adalah Price Anderson Act (PAA) yaitu sebesar $22 juta. Analisis tersebut kemudian dikembangkan oleh Heyes (2003) sebesar $33 juta.  Meskipun nilai tersebut masih memiliki ketidak pastian, namun hingga saat ini masih dijadikan sebagai acuan untuk nilai dasar perbandingan suatu pembangunan energi nuklir.

Tujuan dibuatnya PAA adalah supaya pembangunan energi nuklir yang sudah beroperasi dengan baik dan aman dapat mengambil asuransi di sector swasta.  Namun demikian hingga saat ini energi nuklir belum termasuk di dalam asuransi swasta.  Sehingga tanpa adanya PAA, tidak ada jaminan bahwa investor mau mengembangkan energi nuklir karena tidak ada asuransi dari swasta yang mau menanggung dampaknya.  Dengan adanya PAA, operator swasta reactor nuklir harus menyediakan asuransi yang dapat menanggung sekitar $300 juta melalui pihak ketiga yaitu asuransi swasta.  Apabila terjadi kecelakaan, maksimum yang dapat dibayarkan adalah $95,8 juta untuk tiap reaktor dan apabila ditotal untuk keseluruhan reactor yang dimiliki adalah sekitar $10 miliar.  Dengan demikian, maka untuk biaya pembayaran premi asuransi masing-masing rekator adalah sekitar $15 juta per tahun.  Betapa besar jumlah tersebut yang dikenal dengan sebutan subsidi tak langsung yang harus dibayarkan oleh pemerintah untuk menjamin pengembangan energi nuklir.

Industri Solar PV Dan Biaya Manufaktur Skala Besar

Industri solar PV mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak tahun 2006.  Dengan kemajuan yang sangat pesat tersebut, efisiensi ekonomi yang dihasilkan sangat tinggi sehingga dengan biaya investasi yang sama dapat dihasilkan output yang lebih besar (MW/tahun).  Lebih jauh lagi, sejak tahun 2009 ditemukannya teknologi PV terbaru yang memungkinkan efek lipat ganda pada kapasitas produksi.  Teknologi tersebut adalah pembuatan thin film line atau disebut juga fabricator ( fab).  Teknologi tersebut memungkinkan output energi senilai GW/tahun.  Dengan output sebesar itu untuk satu buah usaha manufaktur thin film maka dapat menurunkan parity harga solar PV dengan energi lainnya.  Untuk membeli/membiayai 1 GW/tahun fab PV thin film biayanya adalah sekitar $2 per W/tahun.  Perhitungan investasi akunting untuk infrastruktur adalah sekitar $400 dari total biaya yaitu sekitar $2.4 miliar per 1GW/tahun.

Hasil Analisis Transfer Subsidi Tidak Langsung Ke Industri PV

Hasil analisis apabila kebijakan subsidi nuklir dialihkan ke subsidi PV dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

jurnal nuklir

 (Grafik dari jurnal)

Dalam grafik diatas dijelaskan mengenai output dalam GW dari energi nuklir dan PV dengan subsidi yang sama.  Setelah tidak ada lagi investasi pada nuklir, akan terjadi penurunan output dari pembangkit nuklir setelah 40 tahun sesuai dengan masa aktif suatu pembangkit nuklir.  Sementara itu, dengan masa aktif 25 tahun, suatu manufaktur PV fab skala besar akan mencapai titik optimum tertinggi pada tahun 2035. Namun demikian setelah itu akan terjadi penurunan penyebaran PV array dengan nilai penurunan hanya sekitar 1% per tahun.  Hal tersebut berarti PV akan mampu menyediakan PV array untuk penyediaan energi dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan nuklir.

Hal lain yang perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan pengalihan subsidi nuklir ke PV adalah nilai kumulatif dari energi yang dihasilkan oleh tiap pembangkit nuklir dan PV array dari tahun 2010 hingga 100 tahun (jangka panjang) kedepan yang ditampilkan dalam grafik berikut.

jurnal nuklir 2

  (Grafik dari jurnal)

Dalam grafik diatas terlihat jelas bahwa kumulatif energi yang dihasilkan oleh suatu pembangkit nuklir akan stagnan untuk 100 tahun ke depan bila dibandingkan dengan energi PV yang terus mengalami kenaikan secara bertahap.  Hasil analisis tersebut didapat apabila transfer subsidi tidak langsung dari 104 reaktor nuklir yang sedang berjalan, dialihkan kepada 14 manufaktur fabs PV yang akan menghasilkan 1.39 GW PV array bahkan dalam tiga tahun pertama.  Apabila dikonversikan ke perhitungan ekonomi, tambahan output energi sebesar 48.600 TWh dari industri PV hanya mengeluarkan biaya sebesar $5,3 trilyun (harga listrik diasumsikan $0.11/Kwh).  Lebih jauh lagi, pada tahun 2110 dapat menghemat sekitar $53 trilyun bila dana tersebut dialihkan dari subsidi nuklir ke subsidi pada manufaktur fabs PV.

Batasan dan Saran

Dalam analisis yang diuraikan tulisan ini, biaya yang dikeluarkan untuk setiap kWh dianggap konstan.  Namun demikian, sebenarnya biaya tersebut dapat dipengaruhi oleh factor-faktor lain, misalnya:

  • Metode untuk menghitung resiko pada dampak nuklir
  • Adanya variable yang berubah pada kemungkinan bencana nuklir, seperti adanya terorisme.
  • Jumlah cahaya matahari yang selalu dapat tersedia
  • Penyebaran logistic
  • Kemajuan teknologi baik nuklir maupun PV
  • Inflasi
  • Kenaikan harga energi

Selain itu, nilai ekonomis suatu manufaktur fabs PV baru dapat tercapai apabila permintaannya cukup banyak untuk dapat menutup biaya produksinya.  Oleh karena itu diperlukan beberapa bentuk dukungan apabila ingin menerapkan pengalihan kebijakan transfer subsidi dari nuklir ke PV.  Bentuk dukungan tersebut dapat berupa:

  • Subsidi langsung untuk menggantikan sebagian biaya instalasi PV sistem.
  • Feed in Tarif
  • Menerbitkan suatu sertifikat solar renewable energi, yaitu mewajibkan penggunaan energi solar yang mengakibatkan bila tidak menggunakan energi solar akan mendapatkan alternative pembayaran yang lebih mahal (pengalihan permintaan secara sosial).

Analisis dalam tulisan ini juga hanya menyajikan data yang diolah dalam persepektif nasional, sedangkan terdapat kemungkinan bahwa hasil yang berbeda akan didapat apabila dilakukan pada tiap wilayah negara bagian.  Selain itu, perlu dilakukan juga analisis dampak pengalihan subsidi nuklir terhadap energi terbarukan lainnya seperti energi angin, geothermal dan lain-lain.

Kesimpulan

Subsidi tidak langsung pada energi nuklir yang berupa kewajiban jaminan asuransi sebesar $33 juta/reactor/tahun kepada subsidi manufaktur PV skala besar dapat meningkatkan output energi sebesar 535 TWh dalam 10 tahun.  Secara kumulatif,  produksi energi PV akan melebihi energi yang dihasilkan oleh nuklir setelah 40 tahun masa produksi.  Dalam 100 tahun kedepan, pengalihan subsidi tersebut akan menghasilkan energi PV sebesar 48.600 TWh lebih banyak daripada energi nuklir.  Jumlah energi tersebut setara dengan biaya listrik sebesar $53.5 trilyun. Hasil analisa dalam tulisan ini jelas menunjukkan bahwa pengalihan subsidi nuklir ke subsidi PV jelas akan mengahsilkan energi yang lebih besar.  Oleh karena itu, berdasarkan analisis dalam tulisan ini maka kebijakan energi nuklir di U.S layak untuk dievaluasi untuk melakukan pengambilan keputusan mengenai penggunaan dana subsidi yang tersedia apakah akan digunakan untuk subsidi nuklir atau dialihkan kepada energi terbarukan lainnya yang lebih potensial.

3 thoughts on “Summary Review: Diverting indirect subsidies from the nuclear industry to the photovoltaic industry: Energy and financial returns. By: Zelenika-Zovk. I & Pearce. J.M. (2011).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s