PENCEMARAN DAN STANDAR BAKU MUTU

Pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan/ atau komponen lain ke dalam lingkungan sehingga menyebabkan sifat dan fungsinya berubah.

Syarat terjadinya pencemaran:

  1. Masuk/dimasukkan materi/zat/energi ke lingkungan
  2. Adanya perubahan sifat
  3. Adanya perubahan fungsi

Contoh materi dapat berupa materi fisika (panas, radiasi, dll), kimiawi (zat pencemar seperti SOx, NOx, Pb, Natural Occuring Radiation Material, dll) dan biologis (bakteri, virus, dll).

Dampak pencemaran dapat akut atau kronis.

  1. Akut: terjadi secara mendadak, irreversible, dalam waktu singkat dan dalam kuantitas yang cukup menyebabkan perubahan fungsi dan sifat yang menurunkan kualitas lingkungan.
  2. Kronis: terjadi secara bertahap dalam kuantitas yang sedikit demi sedikit menyebabkan perubahan fungsi dan sifat yang menurunkan kualitas lingkungan.

Sejauh mana materi/zat/energi boleh masuk ke lingkungan sebelum  dapat merusak dan dikategorikan sebagai tercemar ? untuk itulah dibuat baku mutu. Suatu standar untuk mengkategorikan sejauh mana lingkungan disebut tercemar, sejauh mana zat/materi dapat masuk/dimasukkan ke lingkungan tanpa mencemari. Standar baku mutu di Indonesia diatur oleh kementerian (untuk skala industri) dan oleh pemerintah pusat (untuk yang menyangkut hajat hidup orang banyak).

Salah satu contoh penetapan standar baku mutu adalah dengan pengujian toksikologi.  Secara umum, Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang efek negatif atau efek racun dari bahan kimia dan material lain hasil kegiatan manusia terhadap organismee termasuk bagaimana bahan tersebut masuk ke dalam organismee (Rand, G.M. and Petrocelli, S.R. 1985. Fundamentals of Aquatic Toxicity : Methods and Application, Hempsphere Public Corporation ).  Dalam konteks lingkungan, toksikologi lingkungan adalah Ilmu pengetahuan mengenai kerja senyawa kimia yang merugikan terhadap organismee hidup sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan yang memberikan efek toksik atau merugikan terhadap manusia, menyebabkan perubahan biosfer dan lingkungan luar serta membebani  lingkungan secara fisik (E.J. Ariens, E. Mutschler, A.M. Simonis, “Pengantar Toksikologi Umum”. 1994). Cabang ilmu yang mempelajari khusus toksikologi pada lingkungan adalah Ekotoksikologi, yaitu ilmu mengenai efek toksik dari bahan kimia dan fisik terhadap seluruh makhluk hidup terutama populasi dan komunitas yang berada dalam ekosistem termasuk jalannya transfer bahan -bahan tersebut dan interaksi dengan lingkungan (John H. Duffus & Howard G.J. Worth, ”Fundamental Toxicology for Chemist”, The royal Society of Chemistry Publisher, 1996).

Salah satu contoh uji toksisitas adalah pengujian LC 50 (Lethal Concentration 50).  LC 50 adalah konsentrasi senyawa [g/L dalam air atau udara] yang mengakibatkan kematian dari 50 persen organisme percobaan.  Definisi yang sama juga digunakan untuk LC10, LC5, dll.

Keterangan: dalam grafik digambarkan bahwa seiring dengan meningkatnya konsentrasi suatu zat pencemar maka bertambah juga persentase kematian organisme percobaan. Pada konsentrasi 350 ppm, dimana kematian organisme mencapai 50%, maka disebut bahwa konsentrasi 350 ppm adalah LC 50.  Artinya adalah kadar standar konsentrasi zat tersebut adalah 350 ppm dalam lingkungan, dan bila melebihi maka dapat dikatakan tercemar.

Industri oil and gas serta hubungannya dengan Kerusakan lingkungan

Industri oil and gas tidak dapat dipungkiri memiliki dampak pada lingkungan. Seluruh proses sector industri tersebut memiliki dampak pada ligkungan, mulai dari proses produksi/eksplorasi, refinery/pengolahan, distribusi hingga pengguna akhir. Skala dampak lingkungan dari industri oil and gas diatur dalam peraturan pemerintah keputusan menteri lingkungan hidup, sedangkan berdasarkan sifat materialnya, standar tersebut juga berbeda-beda.  Misal: tumpahan minyak mentah dikategorikan sebagai pencemaran yang berbeda dengan tumpahan BBM. Secara kimiawi, sifat material pencemar tersebut juga dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Completely miscible, zat pencemar dapat terlarut dalam lingkungan.
  2. Completely immiscible, zat pencemar tidak dapat larut dalam lingkungan.
  3. Partially miscible, zat tercemar dapat terlarut sebagian dalam lingkungan.

Trend pada saat ini, industri oil and gas menuju ke laut (anjungan lepas pantai).  Namun demikian dampak lingkungan ternyata masih cukup banyak ditemui dalam industri oil and gas lepas pantai. Mulai dari konstruksi anjungan, proses pengeboran, hingga produced water dan transportasinya. Contoh pencemaran yang berasal dari anjungan lepas laut adalah limbah besi tua setelah anjungan tersebut selesai beroperasi, suhu yang dikeluarkan pada saat operasional, dll.

Industri oil and gas juga memiliki dampak secara demografis yang mengakibatkan pola tata ruang berubah. Daerah sepi yang kaya oil and gas lama kelamaan berubah menjadi ramai karena ekonomi meningkat. Tentu ada dampak lingkungan dari aktivitas manusia yang bertambah tersebut. Selain itu, perubahan tata-sosial dan budaya juga akan terjadi. Aktivitas ekonomi yang meningkat biasanya menjadikan manusia menjadi lebih konsumtif dan kurang menjaga lingkungan. Dengan kata lain kerusakan lingkungan bukan saja memiliki dampak pada lingkungan namun juga pada tatanan sosial-ekonomi masyarakat. Sehingga langkah mitigasi kerusakan lingkungan perlu dibuat dengan cermat untuk meminimalkan dampak kerusakan lingkungan tersebut.

————————————————————————————————————–

Energi dan Lingkungan 4 & 5.

Note:

Selain topik diatas, pertemuan kelima diisi dengan presentasi individu dengan topik “eksternalitas negative dari suatu pembangkit listrik” dan “bioremediasi”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s