Review Artikel: Penurunan Emisi Tanpa Pijakan Awal*

Sebuah artikel di Koran Tempo pada tanggal 28 Desember 2012 yang ditulis oleh Untung Widyanto membahas tentang isu penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) yang dilaporkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya.  Dalam sebuah acara bertajuk National Summit Perubahan Iklim ke-2 yang diadakan di Hotel Borobudur Jakarta, 20 Desember 2012 Menteri Lingkungan Hidup melaporkan sejumlah dokumen mengenai pencapaian penurunan emisi GRK selama tahun 2012 kepada Presiden RI.  Selain Kementerian Lingkungan Hidup, acara tersebut diikuti oleh kementerian-kementerian dan lembaga terkait yaitu: Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum, dan Bappenas.  Acara tersebut juga dibuka oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa.

Acara tersebut membahas tentang kemajuan pencapaian penurunan emisi GRK sesuai dengan program Rencana Aksi Nasional (RAN) penurunan emisi GRK di tahun 2012. Program RAN mengacu pada PP no 61 tahun 2011 yang pelaksanaannya meliputi penurunan emisi pada lima sektor utama, yaitu kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi, transportasi, industri dan pengelolaan limbah. Sejumlah dokumen berisi laporan telah disiapkan oleh masing-masing kementerian terkait mengenai pencapaian penurunan emisi GRK di masing-masing sektor yang menjadi tanggung jawab mereka. Selain RAN, juga telah dilaksanakan Rencana Aksi Daerah (RAD) untuk penurunan emisi di tahun 2012 yang diarahkan oleh Bappenas. Acara RAD nasional dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2012 di Jakarta dan melaporkan pencapaian penurunan emisi oleh setiap provinsi. Keseluruhan rangkaian program RAN maupun RAD merupakan tindak lanjut dari komitmen Presiden RI pada pertemuan negara kelompok 20 (G-20) di Pittsburgh, USA tahun 2009.  Dalam pertemuan tersebut Indonesia berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 26% pada tahun 2020 pada tingkat business as usual (BAU) dengan usaha sendiri dan sebesar 41% dengan dukungan dana internasional.

Dalam tulisan di Koran Tempo tersebut, diuraikan beberapa angka pencapaian penurunan emisi pada sektor-sektor yang terkait beserta beberapa contoh upaya yang telah dilakukan. Sebagai contoh, dituliskan bahwa pemakaian bibit padi varietas tertentu dapat menyumbang penurunan emisi dari sektor pertanian. Tulisan tersebut menyorot bahwa angka-angka yang dilaporkan mengenai penurunan emisi tersebut adalah fiktif, dengan mengacu pada pendapat seorang pengamat perubahan iklim. Diuraikan dalam tulisan tersebut bahwa masih banyak terdapat permasalahan yang menjadi dasar mengapa laporan-laporan tersebut patut dipertanyakan keabsahannya.

Secara pribadi saya berpendapat sama dengan tulisan tersebut.  Sejauh pencarian informasi yang saya lakukan, belum ada laporan tertulis mengenai data awal yang sahih, yang dapat dijadikan baseline atau standar berapa sesungguhnya emisi GRK dari masing-masing sektor terkait sebelum tahun 2012.  Darimana kita dapat mengukur kuantitas penurunan emisi tanpa standar yang jelas ??.  Sebagai contoh, dalam tulisan tersebut diuraikan bahwa Kementerian Kehutanan yang menggunakan laju deforestasi sebagai standar pengukuran penurunan emisi. Padahal, menurut pengamat isu perubahan iklim, dalam sektor kehutanan masih banyak aktivitas lain yang masih harus diperhitungkan sebagai penyumbang emisi GRK, misalnya konversi lahan gambut, kebakaran hutan dan lain-lain.

Selain itu, menurut saya data penurunan emisi dari bidang pengelolaan limbah jauh dari valid karena hanya mencantumkan pelaksana dari pihak kementerian pekerjaan umum dan kementerian lingkungan hidup. Pengelolaan limbah merupakan bidang yang sangat kompleks, bagaimana mungkin tidak melibatkan kementerian perindustrian terkait dengan limbah yang dihasilkan oleh setiap industri, atau dengan kementerian kehutanan,pertanian dan energi, bukankah sektor-sektor tersebut mungkin saja melakukan pengolahan limbah yang mengurangi emisi namun tidak terlaporkan oleh KLH ?.  Lebih jauh lagi bagaimana dengan limbah rumah tangga ?? Bagaimana kontribusinya ? Apakah sudah diperhitungkan sebagai penyumbang emisi yang patut diturunkan levelnya dalam program RAN/RAD ? Kalaupun diperhitungkan, menjadi tanggungjawab sektor atau kementerian mana ?

Laporan-laporan tersebut juga belum menjelaskan metode apa yang digunakan untuk mengukur laju penurunan emisi tersebut. Lebih lanjut lagi disebutkan bahwa ternyata program RAN GRK baru akan mendapat dana APBN yang diagendakan pada 2014.  Dengan informasi tersebut, pertanyaan saya adalah bagaimana pertanggungjawaban dana pelaksanaan laju penurunan emisi di setiap sektor tersebut ? apakah dari anggaran tiap kementerian terkait atau dari dana bantuan internasional ?.  Lalu apakah kegiatan yang termasuk memberikan kontribusi penurunan emisi tersebut benar dikerjakan atau termasuk program dari kementerian terkait ? atau jangan-jangan malah ada data dari kegiatan penurunan emisi yang dilakukan oleh swadaya masyarakat yang dicatut untuk dimasukkan dalam laporan tersebut.  Bagaimana presiden RI dapat mempertanggungjawabkan penyebutan angka penurunan emisi GRK Indonesia di tahun 2012 adalah sebesar sekian persen dari baseline sekian dengan usaha sendiri (yang bahkan belum ada anggaran APBN nya) atau dukungan internasional ?.  Meskipun dalam artikel tercantum diagram yang menggambarkan informasi sumber dan jumlah emisi GRK yang diambil dari data KLH 2010, namun tidak jelas apakah data tersebut yang digunakan sebagai baseline.

Terkait dengan RAD, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana sinergi antar data dari RAD dengan data tiap kementerian ? Misalnya, apakah bila dijumlahkan dari laporan penurunan emisi di bidang kehutanan seluruh provinsi, akan sama dengan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan, meskipun data RAD dikoordinasikan oleh Bappenas ???.  Sesungguhnya sangat rumit saya membayangkan darimana munculnya angka-angka laporan tersebut dan bagaimana alurnya dalam berbagai program yang tumpang tindih baik dari nasional, daerah, dan berbagai sektor yang lintas kementerian.  Saya pun mau tidak mau berpendapat sama dengan sang penulis artikel bahwa laporan-laporan para menteri tersebut hanya pencitraan belaka, karena tidak memiliki latar belakang data yang valid.

Dalam tulisan terpisah, di halaman yang sama, diuraikan juga bahwa seluruh rencana aksi tersebut belum memiliki koordinasi yang jelas. Disinggung bahwa terkait dengan penurunan emisi dari sektor energi dengan cara konversi BBM ke gas yang mengalami kendala di konverternya, terdapat saling lempar tanggungjawab antar kementerian. Penyediaan converter disebutkan sebagai tanggungjawab kementerian perindustrian, sedangkan pemasangan pada angkutan misal sebagai tanggungjawab kementerian perhubungan dan pengadaan SPBG sebagai tanggungjawab kementerian koordinator kesejahteraan rakyat, termasuk proses sosialisasinya. Padahal sama sekali kementerian koordinator kesejahteraan rakyat tidak ada wakilnya dalam acara national summit tersebut. Sungguh melelahkan memang menerima tanggungjawab dan sangat jelas lebih mudah melemparkan kembali bola panas tersebut. Mungkin benar seperti yang ditulis di akhir artikel tersebut bahwa laporan-laporan penurunan emisi GRK tersebut hanya pencitraan belaka. Topik emisi GRK memang masih merupakan topik yang mewah bagi pemerintah Indonesia. Mungkin sudah banyak yang menyadari bahwa koordinasi antar semua pihak terkait adalah hal yang paling penting dalam menangani masalah ini, seperti yang dijabarkan oleh menteri koordinasi perekonomian pada saat pembukaan national summit perubahan iklim ke-2. Pertanyaannya sekarang adalah siapa yang bersedia bertanggungjawab mengkoordinasikannya ???.

*artikel di Koran Tempo pada tanggal 28 Desember 2012
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s